Pancasila dan Tafsir Maqasid

Indonesia berlandaskan Pancasila itu thagut harus segera diganti dengan Sistem Khilafah yang jelas dari Islam!

Kurang lebih narasi seperti itu yang digaungkan beberapa ormas Islam, bahkan memiliki cukup banyak massa. Namun, apakah benar Pancasila sebagai dasar NKRI ini tidak bersesuaian dengan Islam hanya karena Al-Quran tidak menyebut فنچاسيلا (Pancasila) secara gamblang? Hmmm. Tulisan ini berawal ketika penulis mendengar keluhan Yenny Wahid (Putri alm. Gusdur) karena banyaknya kelompok “Fanatik” yang berpendapat seperti yang aku sebutkan sebelumnya, yang intinya Yenny begini, “… Padahal Pancasila itu mengandung nilai-nilai Maqashid Syariah loh.” Ketika mendengar itu, aku langsung berselancar di internet mencari kesesuaian antara Pancasila dan Tafsir Maqashid. Well, berikut beberapa hasil pencarianku.

Oke, jadi apa sih yang dimaksud dengan tafsir maqashid? Jadi, sederhananya adalah tafsir yang berbasis pada teori Maqashid Al-Quran dan Maqashid Syariah. Jadi, validitas produk tafsir maqashidi dapat dilihat seberapa jauh tingkat koherensi atau kesesuaiannya dengan teori maqashid. Sedangkan, Pancasila adalah dasar negara serta falsafah bangsa dan NKRI yang terdiri atas lima sila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Dr. Abdul Karim Hamidi dalam kitab al-Madkhal ila Maqashid Al-Quran memetakan Maqashid Al-Quran menjadi tiga point -yang intinya bahwa seluruh tuntunan ajaran Al-Quran selalu diorientasikan kepada upaya terwujudnya kemaslahatan- meliputi :
1) al-Shalah al-Fardi (kemaslahatan yang bersifat personal)
2) al-Shalah al-Ijtima’i ( kemaslahatan yang bersifat sosial- komunal),
3) al-Sholah al-‘Alami (kemaslahatan yang bersifat mendunia/mengglobal)

Maqashid Syariah -basis tafsir ini- adalah rincian lebih lanjut dari maqashid Al-Quran, yaitu bahwa semua tuntunan syariat Islam dimaksudkan untuk menjaga kemaslahatan lima hal, yaitu: hifzh al-din (menjaga agama), hifzh al nafs (menjaga jiwa), hifzh al aql (menjaga akal-rasio), hifzh al nasl (menjaga generasi) dan hifzh al mal (menjaga harta atau properti). Demikian, penjelasan singkat Imam al-Syathibi dalam kitab al-Muwafaqat fi Ushul al Syari’ah. Kemudian oleh Dr. H. Abdul Mustaqim, seorang Kaprodi IAT di UIN Sunan Kalijaga, menambahkan dua point lagi, yaitu hifzh al daulah (menjaga negara) dan hifzh al bi’ah (menjaga lingkungan alam).

Lalu, dimana kesesuaian Pancasila dan Tafsir Maqashid? Hmmmm oke. Jadi,

Sila 1, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa berarti kita mengakui Tuhan Yang Maha Esa, dalam Islam ini disebut sikap bertauhid. Sikap ini sesuai dengan point pertama Tafsir Maqasid (hifz al-din), sikap ini berakibat pada kesadaran untuk memanusiakan manusia sebagai ciptaan-Nya sehingga terwujudnya nafs al-wahidah, jiwa yang satu (QS. An-Nisa: 1).

Sila 2, yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab berarti kita harus menjunjung tinggi terhadap aspek kemanusiaan dengan keadilan dan beradab pula. Al-Quran jelas sangat menghargai harkat dan martabat kemanusiaan, seperti secara tegas, Al-Quran menyebut bahwa manusia telah dimuliakan oleh Allah SWT. dengan segala fasilitas, rezeki dan alat transportasi (QS. Al-Isra’: 70 ). Itulah makna lain dari hifzh al-nafs (menjaga jiwa dan eksistensi manusia) yang dalam diskursus pemikiran Islam kontemporer disebut dengan istilah karamatul insan (kemuliaan manusia).

Sila 3, yaitu Persatuan Indonesia. Persatuan adalah keniscayaan bagi keutuhan dan eksistensi generasi bangsa Indonesia, terlebih Indonesia memiliki suku, bangsa dan bahkan agama sangat plural. Maka, hal ini harus dirawat dan dikelola dengan baik, agar membawa rahmat (QS. al-Hujurat: 13). Selain itu, Al-Quran mengingatkan bahaya tafarruq (bercerai-berai) dan tanazu’ (konflik dan bertengkar) yang membuat kita sengsara, tidak berwibawa dan akan mengancam bagi eksistensi generasi bangsa ini (QS. Ali Imran: 103 dan Al- Anfal: 46). Itulah yang dimaksud hifz al-nasl.

Sila 4, yakni Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Al-Quran menegaskan bahwa hendaknya urusan mereka selalu diputuskan berdasar musyawarah (QS. Al Syura: 38). Dengan melakukan musyawarah yang penuh hikmat dan sikap bijaksana berarti kita telah menjaga akal (hifz al-aql) kita, karena terjadi pemikiran-pemikiran dan saling bertukar pendapat.

Terakhir, sila 5 adalah Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bahwa seluruh kekayaan negara dan tanah air harus dikelola oleh pemerintah dengan baik demi mewujudkan keadilan dan kemakmuran bersama. Al-Quran sangat menekankan tegaknya nilai-nilai keadilan karena kesiapan itu lebih dekat kepada nilai takwa (Q.S. Al-Maidah: 8). Ketika, nilai-nilai keadilan dan kemakmuran menjadi nyata, maka itulah gambaran negara yang adil makmur, seperti disebut Al-Quran dengan istilah baldatun thayyibah wa rabbun ghofur. (QS. Saba’ :15).

Demikian, kesesuaian antara Pancasila sebagai dasar NKRI dengan nilai-nilai Islam, utamanya Tafsir Maqashid. Maka, tidak perlu mempertentangkan apalagi berkeinginan menggantinya hanya karena Al-Quran tidak mengatakan فنچاسيلا secara gamblang. Pancasila merupakan ijtihad politik dari para founding fathers yang disepakati oleh anak bangsa dari berbagai elemen karena pada hakikatnya kita akan bersama-sama dalam berbangsa dan bernegara. Pancasila is not a religion, but Pancasila does not contradict to any religion 😊

Wallahu’alam

Everything is About Perspective

Jika kamu benar, apa aku pasti salah?


Dewasa ini orang-orang berlomba untuk menunjukkan dirinya paling benar. Hal semacam ini juga sering kita temui di sosial media, seperti di sosial media karena tidak jarang masifnya informasi yang diterima sehingga filter diri semakin tumpul menjadikan sukar memilah milih antara yang benar dan salah. Yaa karena kurangnya referensi/perspektif kita terkait banyak hal.

Misalnya 1+1=2 dan 1+1=0 menurutmu yang mana yang benar? Mungkin kita akan menjawab 1+1=2 adalah yang benar karena itulah informasi yang kita terima sejak SD. Padahal jawabannya adalah keduanya benar. Mengapa?
1+1=2 adalah benar, jika bilangan desimal sebagai perspektif kita yakni 0-9. Bilangan desimal biasanya digunakan kawan sebagai password untuk teathring. Dengan begitu, apakah 1+1=0 adalah salah? Tentu tidak, jika kita menggunakan bilangan biner sebagai perspektif. Bilangan biner biasanya disebut bit yang lazim digunakan untuk pemograman.


Kemudian contoh lagi dalam segi fiqh tentang “apakah menyentuh lawan jenis dapat membatalkan wudhu?” (lihat QS. An-Nisa’: 43) jawabannya bisa iya, bisa jadi tidak. Mengapa? Karena menyentuh lawan jenis dalam keadaan berwudhu dapat membatalkan jika menggunakan perspektif mazhab Syafi’i, which is berargumen seperti itu. Namun, bisa juga tidak, jika menggunakan perspektif mazhab Hanafi yang argumennya bisa dibaca pada artikel yang lain.


Begitulah pentingnya kita lebih memperkaya perspektif kita, selain bertujuan agar tidak mudah menyalahkan orang lain, kita pun bisa melihat perbedaan dengan lebih jernih. Salah satu cara menambahnya dengan membaca buku, artikel, jurnal dsb.

Wallahualam

Toxic Masculinity

Pernah tidak kalian berada dalam situasi yang bilang,
“Ah cemen! Masa gitu aja takut?”
“Gitu aja kok sedih?”
“Cowok kok nangis?”
“Baru seputaran udah kecapekan, cowok jangan lemah!”
Mungkin hal tersebut dialami sebagian besar laki-laki. Apakah kamu tahu bahwa itu adalah toxic masculinity? Lantas kenapa kita harus perduli? to find those answer, let’s take a first look at masculinity!


Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata maskulin? Sosok pria kuat? Kekar? Stioic (tidak emosional)? Laki banget (macho)? Sporty? Dominan? Aktif secara seksual? Agresif? Pemarah? Mungkin sebagian besar menjawab iya, karena memang itulah gambaran sosok maskulin itu.


Oh iya, toxic masculinity adalah cara berekspresi maskulinitas yang sifatnya destruktif karena menggunakan cara pandang terhadap makna gender laki-laki yang terlalu sempit.


Sebenarnya istilah ‘maskulin’ ini lahir dari budaya patriarkisme yang sangat kental di Indonesia. Artinya, maskulinitas merupakan bentuk konstruksi sosial, bentukan society. Tanpa memperdulikan kepribadiamu, jika kamu terlahir memiliki penis maka kamu adalah seorang laki-laki yang harus maskulin sesuai konstruksi sosial itu. Oke, walaupun itu bukan a bad things tapi…


Ketika kamu tumbuh dan hidup dilingkungan yang patriaki ini, kamu akan selalu dituntut menjadi seorang ‘maskulin’ dan kalau tidak, maka kamu akan dicap banci, tidak laki, lekong atau lemah. Dari sinilah toxic masculinity muncul.


Menurut pakar psikolog bernama Shepherd Bliss, maskulinitas tersebut memiliki dampak buruk bagi laki-laki, bahkan bisa stres hingga bunuh diri. Misalnya laki-laki dianggap tidak mungkin jadi korban pelecehan/kekerasan seksual, pemerkosaan, malah dianggap si laki-laki itu beruntung karena sekalian berhubungan badan atau laki-laki harus menjadi tulang punggung keluarga, kalau pasangannya sampai bekerja juga berarti dia telah gagal menjadi laki-laki. Dll~


Ketika perempuan menjadi korban pelecehan seksual, banyak di antara mereka yang masih diakui sebagai korban, sedangkan kalau laki-laki yang dilecehkan? Tidak, dia jarang sekali diakui sebagai korban karena dianggap menikmati pelecehan. Ungkapan ‘kucing kalau dikasih ikan asin pastilah mau’ itu juga gambaran betapa recehnya seksualitasnya wong dikasih apa saja dia mau. Btw, perempuan digambarkan sebagai ikan asin-_-


Dalam banyak kejadian juga, walau hidup sangat kesusahan si laki-laki melarang pasangannya untuk membantunya mencari uang karena takut dicap sebagai laki-laki yang gagal. Akhirnya si laki-laki akan terus banting tulang, bahkan tidak jarang ini malah mengakibatkan tidak terkontrolnya emosi sehingga mengakibatkan KDRT.

https://oborsultra.com/30/01/2020/driver-ojol-laki-laki-rentan-mendapat-pelecehan-seksual-mereka-hanya-malu-melaporkan/


Disekitarmu tentu banyak laki-laki yang stres hingga bunuh diri karena gagalnya mereka menjadi sosok maskulin itu. Mungkin, kita akan sulit menemukan data banyaknya laki-laki yang menjadi korban toxic masculinity ini, karena banyak sekali yang kurang aware akan toxic ini baik oleh pemerintah maupun kita sendiri. Mungkin juga laki-laki akan malu menceritakan ‘maskulinitas’nya hingga dia hidup dibawah tekanan dan depresi.


Setiap orang pasti memiliki keunikan dan berbeda-beda, termasuk laki-laki. Ada yang fisiknya tidak manly, ada yang introvert, ada yang emosional (tidak hanya marah), ada yang wajar secara seksual, ada yang pemalu, ada yang ekspresif, dll. Tetaplah menjadi laki-laki maskuin yang positif dan sehat bagi dirimu sendiri.

Ketika Islam menjadi Sumber Ketakutan

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ  ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ  ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْأَمْرِ  ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ  ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159)

Sebenernya alasan adanya tulisan ini dilatarbelakangi oleh banyaknya pengemban dakwah, tokoh-tokoh agama dan sebagainya yang kurang tepat dalam menyampaikan Islam. Emmm tentu saja mereka adalah oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

Kecanggihan teknologi menjadikan kita lebih mudah untuk mendapat informasi, terutama informasi agama. Orang-orang terdahulu sebelum kita, seperti Imam Bukhari, Muslim, Malik, dkk. harus berkelana kesana kemari dengan keterbatasan sarana-prasarana untuk memperoleh ilmu bahkan mereka bisa menciptakan karya kitab-kitab hadits, fiqh, dll tentu saja itu membutuhkan usaha yang ekstra. Dibandingkan dengan kita sekarang, hanya rebahan dikasur sambil streaming youtube, berselancar di google, baca-baca blogspot sudah bisa memperoleh informasi agama dari siapapun dan berbagai wilayah.

Pastinya banyak yang sudah mengetahui bahwa informasi yang ada diinternet tidaklah valid semua, butuh observasi serta analisis sebelum mempercayainya. Namun sayang seribu sayang, itu hanyalah teori. Jarang sekali orang yang kritis jika menerima informasi, terutama mengenai agamanya sendiri. Hal itu menyebabkan sebagian orang menjadi terlampau keras dalam beragama, seperti mudah melontarkan kata kafir pada orang lain, melabeli orang sebagai pendosa, senang menghakimi orang lain dan hal buruk lainnya.

Tanpa disadari, sikap itulah yang memudarkan Islam sebagai agama rahmatan lil-‘alamin, agama yang ramah, menjunjung tinggi kejujuran, kelemah lembutan dan hal baik lainnya. Alih-alih ingin membumikan Islam, malah orang-orang hanya mengenal Islam sebagai agama yang menakutkan, mudah marah, tidak ramah, hanya berisi azab, hanya ada dosa dan pandangan negatif lainnya. Seperti shalat hanya karena ketakutan bukan lagi sebagai kebutuhan, dalil hanya dijadikan referensi untuk mengutuki orang lain, dll. Naudzubillah.

Racun Kata-kata Positif


وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-A’raf: 204)

Sebagai teman yang baik, banyak dari kita mengucapkan kata-kata dengan maksud agar menghilangkan dukanya, menghibur atau memotivasi.

Jangan menyerah!

Kamu masih beruntung daripada yang lainnya, kok!

Be positive, ya!

Bagi sebagian orang kata-kata di atas cukup ampuh mematahkan pikiran dan perasaan buruk mereka. Namun, bagi sebagian lainnya, hal tersebut justru membuat mereka makin merasa kecil diri, bahkan bisa menjadi pemicu gangguan psikis. Dr. Jiemi Ardian, seorang residen psikiatri di RS Muwardi Solo, mengunggah pesan di akun Instagramnya tentang toxic positivity dengan mendikotomi antara ekspresi-ekspresi empati dan ucapan yang mengandung toxic positivity.

Toxic positivity adalah istilah yang mengacu pada situasi ketika seseorang secara terus menerus mendorong temannya yang sedang tertimpa kemalangan untuk melihat sisi baik dari kehidupan, tanpa pertimbangan akan pengalaman yang dirasakan temannya tersebut atau tanpa memberi kesempatan temannya untuk meluapkan perasaannya.

Jadi, kita hanya menyuruhnya agar tetap menjadi positive people padahal orang tersebut sedang terguncang karena masalah yang menimpanya tanpa kita sadari itu akan terkesan meremehkan, menyepelekan, mengganggap tidak penting emosional seseorang.

Faktanya tidak semua orang ketika sedih butuh kata-kata “be positive” seringkali seseorang butuh didengarkan segala cerita yang membuatnya bersusah hati. Emosi-emosi seperti marah, sedih, kecewa dsb jika disangkal atau dipendam demi selalu terlihat positif atau bahagia di depan orang-orang, itu akan memicu terjadinya penumpukan emosi negatif kemudian bisa memicu stres dan sakit psikis serta fisik alias psikosomatis.

Dalam tulisan Wood, dkk. yang dimuat di jurnal Psychological Science (2009), para peneliti menemukan bahwa kata-kata positif yang ditujukan kepada responden berpenilaian diri rendah justru membawa dampak negatif. Melalui survei Susan David, psikolog dari Harvard Medical School dan penulis buku Emotional Agility, terhadap 70.000 responden yang disinggungnya dalam sebuah video Ted Talk menyatakan bahwa sepertiga responden menghakimi perasaan negatifnya sendiri dan berusaha menyingkirkan hal tersebut berkat adanya pandangan bahwa menjadi positif merupakan kebenaran secara moral.

Sebagai contoh, Clara -bukan nama sebenarnya- yang merupakan seorang penyintas kekerasan seksual pada saat remaja dan mengidap post traumatic stress disorder (PTSD), pernah berkonsultasi dengan beberapa pakar psikologi yang kurang sensitif menanggapi kisahnya. Seorang psikolog menyarankan Clara untuk salat dan percaya kalau Tuhan tidak akan memberi ujian melebihi kapasitas hamba-Nya. Saat mengenang hal itu, Clara malah berpikir, ke mana Tuhan waktu dia diperkosa dan dapat pelecehan? Sementara saat pindah berkonsultasi ke seorang psikiater, Clara pernah disarankan bersyukur karena bisa melanjutkan hidup sampai sekarang dan tidak sampai hamil setelah diperkosa.

Sekilas itu memang tepat, namun bagi seorang korban yang terauma hingga mengidap PSTD, jika didalami sepertinya itu bukanlah respon yang tepat.

Toxic positivity pun bisa menimbulkan kekecewaan terhadap dirinya. Hal ini timbul karena kekecewaan pada dirinya sebab tidak benar-benar menemukan dirinya yang happy, ia malah menemukan dirinya yang sedang tidak positif, sedang sedih, marah atau bersusah hati yang jauh dari ekspektasi orang lain. Maka, sebelum memberikan positive vibes pada teman yang bersedih, hendaklah mendengarkan dengan seksama dan diamlah agar kamu bisa mengerti emosionalnya sehingga bisa memberi vibes yang bisa melapangkan hatinya.

Mufassir itu…

Rasa-rasanya semua muslim menginginkan jadi seorang mufassir, bukan untuk keren-kerenan semata tapi karena ingin senantiasa menjelajahi Kalamullah lebih dalam, lebih luas, lebih dekat. Ah bersyukur sekali bila sudah memiliki semua perangkat ilmunya apalagi bisa menciptakan kitab tafsir. Paling sering kita dengan adalah nama M. Quraish Shihab dengan kitab tafsir al-Misbah-nya.

Walau begitu, untuk menjadi seorang mufassir harus cerdas otaknya, bersih hatinya, harus banyak pengetahuannya dan indah akhlaknya. Makna-makna dalam Al-Qur’an dapat ditemukan dengan bantuan pengetahuan ilmu-ilmu Al-Qur’an, salah satunya bahasa Arab. Para ulama meyakini bahwa bila ingin memahami Al-Qur’an maka penting bagi kita melakukan penyucian jiwa. Allah SWT. berfirman:


سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ

Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. (QS. Al-A’raf: 148)

Menjadi mufassir bukanlah hal yang mudah, jika kita membaca riwayat hidup para mufassir, kita akan melihat bahwa mereka telah mempersiapkan dirinya sedari awal kehidupannya. Beberapa catatan singkat tentang mufassir,

Al-Alusi, Mufti Baghdad

Sejak menanggalkan baju kanak-kanakku dan mengenakan serbanku, tidak henti-hentinya aku berusaha mengungkapkan rahasia Al-Qur’an yang tersembunyi, berharap dapat meneguk minuman surgawi dari pinggan yang terpatri. Betapa seeingnya ku tinggalkan tidurku untuk mengumpulkan keistimewaannya. Betapa lamanya aku menjauhi kaumku untuk mendapatkan mutiaranya. Sekiranya kamu melihat aku waktu itu, aku sentuhkan dahiku pada lembaran-lembaran Al-Quran karena tidak tidur malam, ku pandangi -kala lilin meredup- cahaya rembulan, pada kebanyakan malam-malamku. Pada waktu itu, kawan-kawan remajaku sedang bergembira di lapangan permainan, bersukaria dalam berbagai hiburan, mendahulukan kesenangan sensual di atas kelezatan spiritual, membuang yang paling berharga dari waktu hanya untuk memuaskan hawa nafsu. Dengan segala kemudaan usiaku dan kesempitan pandanganku, keadaan mereka tidak mengelabuiku, perilaku mereka tidak menggodaku. Akhirnya sampailah aku pada kebanyakan hakikatnya. Aku berhasil mengurai limpahan pernak-perniknya. Aku tembus -segala puji bagi Allah- mutiaranya dengan pena pikiranku, sebelum usiaku mencapai 20 tahun.

Rasyid Ridha, mufassir pembaru dari Mesir

Sebelum menyibukkan diri dalam mencari ilmu di Tropoli, Syam, aku sibukkan diriku dengan beribadah yang berkecenderungan kepada arah tasawuf. Aku bertekad untuk membaca Al-Quran dengan maksud untuk mengambil pelajaran agar cinta kepada akhirat dan zuhud pada dunia. Ketika aku merasa sudah merasa layak untuk memberikan manfaat kepada manusia dati ilmu yang aku peroleh, aku duduk dihadapan orang banyak mengadakan pengajian di negeri kami. Aku menasihati mereka dengan Al-Quran, lebih mengutamakan ancaman daripada dorongan, ketakutan daripada harapan, peringatan daripada kabar gembira, zuhud pada dunia daripada hidup sederhana dan moderat.

Note: Rasyid Ridha mempelajari tafsir dari pembaru Islam, Syaikh M. Abduh, yang berusaha membangkitkan umat Islam dari keterbelakangan. Dalam tafsirnya, pandangan Abduh yang liberal bergabung dengan pandangan Rasyid Ridha yang skiptural. Rasyid Ridha mengancam tasawuf sebagai penyebab keruntuhan Islam.

Wallahu ‘alam.

Mengapa Rasulullah Memberi Jawaban yang Berbeda-beda?

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah: 187)

Selain Rasulullah SAW. adalah utusan Allah SWT. beliau juga sosok yang bijaksana lagi adil. Hal itu membuat beliau menjadi center untuk memperoleh kebijaksanaan diantara mereka.

Pada suatu waktu, Abu Dzar al-Gifari menghampiri Rasulullah SAW. untuk meminta wasiat. Kemudian, Rasulullah SAW. memberikan wasiat kepada Abu Dzar agar bertakwa kepada Allah SWT. dimanapun dan kapanpun, melakukan perbuatan baik setelah setiap kali mengerjakan perbuatan buruk dan bergaul dengan orang-orang yang berakhlak baik.

Pernah juga, seorang lelaki yang mendatangi dan meminta wasiat kepada Rasuluah SAW. Kemudian Rasulullah SAW. mewasiatinya agar jangan marah dan beliau mengulangnya sebanyak 3x agar dapat membekas diingatan lelaki tersebut.

Pada kesempatan lain, ada seorang Badui yang meminta wasiat kepada Rasulullah SAW. agar dirinya bisa masuk surga setelah melakukan wasiat itu. Kemudian, Rasulullah SAW. mewasiatkan seorang Badui itu agar jangan menyekutukan Allah SWT., dirikan shalat wajib 5 waktu, tunaikan zakat wajib, dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Lalu, seorang Badui itu berjanji akan melakukan apa yang telah diwasiatkan kepadanya tanpa menambahi atau mengurangi sedikit pun.

Di hari lainnya, Abdullah bin Yusr mencertikan bahwa ada seorang lelaki mengadu kepada Rasulullah SAW. Menurut lelaki tersebut, syariat Islam sudah sangat banyak dan beliau mengaku sudah banyak melakukannya. Namun, beliau meminta wasiat kepada Rasulullah SAW. tentang satu saja dari syariat Islam yang bisa diandalkannya. Rasulullah SAW. pun hanya menjawab singkat, yakni “Hendaklah lidahmu selalu basah karena berdzikir!”

Selain beberapa kisah di atas, tentu saja masih banyak kisah serupa yang tidak diketahui penulis. Pertanyaannya, mereka mendatangi Rasulullah SAW. dengan tujuan sama yaitu meminta wasiat, lantas mengapa Rasulullah SAW. memberikan wasiat yang berbeda-beda?

Bukan karena Rasulullah SAW tidak konsisten. Rasulullah adalah sosok yang peka, perduli, perhatian sehingga beliau memahami bagaimana kondisi orang-orang disekitarnya dan apa yang disampaikan atau diwasiatkan Rasulullah SAW. bisa sesuai dengan kondisi si peminta wasiat. Misalnya seorang yang datang kepada Rasulullah SAW. dengan watak pemarah, maka Rasulullah mewasiatkan agar jangan marah. Seseorang yang jarang berzikir? Maka Rasulullah SAW. mewasiatkan agar senantiasa berzikir dsb.

Dalam hal ini, Rasulullah SAW. bisa saja mewasiatkan hal yang sama, namun Rasulullah SAW. tidak melakukan demikian karena memang agama beserta aturannya bukan untuk menyulitkan manusia.

Wallahu’alam.

“Perempuan Selalu Benar”, Katamu

Aku menulis ini hanya cerita saja, disamping gabutnya aku garap tugas kuliah, hehe.

Ini terjadi ketika aku terlibat dalam diskusi hangat bersama beberapa orang perempuan dan laki-laki. Topiknya hanya seputar kehidupan saja. Diskusi itu aku harapkan berujung pada solusi baru atau setidaknya menambah informasi baru, namun tidak! Diskusi sepanjang itu harus berakhir ketika teman lelakiku bilang, “Yaudah, perempuan selalu benar.” dan tertawa bersama teman lelakinya yang lain. Mendengar hal itu, bukannya tersinggung malah ada perempuan yang nyeletuk “Makanya, jadi laki-laki gausah debat sama perempuan!”

Setidaknya itu cerita pengalamanku dengan imej PSB. Aku speechless banget. Ya gimana enggak, perempuan sudah cape-cape analisis data untuk membuat argumen malah dipatahkan dengan “PSB”, itu bahkan bukan argumen sama sekali. Bagiku pernyataan tersebut hanya sebagai penutup ruang diskusi saja. Pernyataan tersebut layaknya sarkasme, candaan bahkan lelucon. Seakan-akan percuma bicara panjang lebar dengan perempuan karena mereka adalah makhluk emosional, penuh perasaan dan selalu ingin dimengerti. Jadi laki-laki sebagai makhluk rasional, tidak peka dan menggunakan logika ‘langsung mengalah saja’, i mean -iyain aja-.

Hal itu sering terjadi tidak hanya dalam forum diskusi, bahkan di FN, TW, IG dan lain-lain yang kebanyakan memang dinyatakan oleh laki-laki. Meskipun itu sering terjadi, dan bagiku itu sangat mengganggu tapi tidak sedikit perempuan yang menggagap bahwa pernyataan tersebut adalah privilage untuk perempuan, mengiyakannya sebagai kodrat, menggunakannya sebagai modal tawar agar memperoleh apa yang dikehendaki, membuat laki-laki serasa mati kutu. 

Apakah karena tubuh perempuan mengalami Pre-Menstrual Syndrome, lantas semua perempuan adalah makhluk moody, emosional dan tidak rasional dibandingkan laki-laki? Apakah karena beberapa perempuan punya sifat ngeyelan, lantas semua perempuan adalah makhluk tak logis yang harus selalu dibuat merasa benar untuk menyenangkannya? Apakah karena perempuan menikmati perasaan disayang dan dimanjakan, lantas semua perempuan adalah makhluk cengeng dan rapuh yang harus selalu diemong dan dituntun oleh laki-laki?

Sebaiknya jika ingin mengakhiri diskusi/apapun katakan saja secara gamblang, tidak perlu ‘berargumentasi’ dengan PSB. Jangan jadi nyebelin lur 🙂

Feminisme dan Emansipasi

Aku ingin menceritakan sedikit tentang feminisme dan tentu saja ini tidak mewakili seluruh feminis.

Aku tertarik pada isu-isu sosial, terutama persoalan HAM dan psikologis. Aku baca-baca tentang masalahnya apa, kenapa bisa terjadi, kondisi ketika terjadinya seperti apa, sifat-sifat manusia kalau seperti ini gimana, apa saja yg terjadi pada psikologisnya ketika seseorang melanggar/menaati HAM, blabla… sampai aku menemukan di dalamnya ada perempuan sebagai makhluk yang kompleks, mungkin karena mereka adalah makhluk yang peran perasaannya sangat besar. Walaupun begitu, tentu tidak menjadikan mereka selalu negatif atau irasional, tergantung perempuannya. Namun, aku sangat kagum bila perempuan bisa using both, selain tegas tapi juga sosok pemerasa. Aku belajar untuk itu karena aku fully pemerasa, HEHE.

Atas ketertarikanku pada isu-isu perempuan menghantarkanku pada emansipasi perempuan, kemudian aku berkenalan dengan feminisme. Aku tidak begitu tau asal keduanya, ada yang mengatakan emansipasi merupakan ide dari Mesir, tapi ada pula yang mengatakan keduanya adalah ide Barat. Lalu, apakah emansipasi perempuan dan feminisme itu sama? Ya, terlepas dari asal mereka bagiku secara ideologis keduanya memiliki poin yang sama hanya berbeda cakupannya, yakni menginginkan akses publik yang setara.

Perlu diketahui bahwa setara berbeda dengan sama. Setara berarti sejajar, yakni mendapatkan kesempatan akses yang tidak berbeda antara satu dan yang lainnya, misal laki-laki boleh mempresentasikan sesuatu, perempuan juga boleh, laki-laki boleh mengenyam pendidikan, pun perempuan juga boleh. Sedangkan sama berarti serupa, bagaimana bisa menyamakan antara laki-laki dan perempuan sedangkan keduanya memang berbeda, contohnya laki-laki harus kerja ngangkut benda berat, perempuan akan kesulitan melakukan itu karena keduanya secara biologis laki-laki dianugerahi fisik yang kuat dibanding perempuan atau laki-laki menjadi pemimpin publik karena dalam membuat kebijakan butuh peran dominan logika sedangkan perempuan didominasi perasaan yang mungkin “Ah, gak tega bikin kebijakan kek gini:(“.

Emansipasi perempuan yang dimaksud menuntut kesetaraan hak perempuan dalam akses publik, utamanya pendidikan seperti blog sebelumnya (klik). Dewi Sartika yang mendirikan sekolah untuk perempuan, Cut Nyak Dien perempuan pemberani asal Aceh yang turut angkat senjata ketika Indonesia terjajah dan sebagainya. Tetapi hanya dalam beberapa aspek seperti pendidikan, politik dan kesehatan karena disesuaikan dengan zaman itu yang partisipasi perempuan di ruang publik, utamanya 3 hal tersebut. Secara hukum, semua orang (baik laki-laki/perempuan) berhak mendapat pendidikan, seperti blogku sebelumnya Klik.

Terkait pentingnya pendidikan, Allah SWT. berfirman dalam Q.S 58:11.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini berisi perintah Allah SWT. kepada kita jika ada yang menghadiri majelis, forum dalam rangka menimba ilmu maka berilah kelapangan (memudahkannya) dan saling menghormati, ikut berdiri itu bentuk penghormatan. Allah SWT. akan memberikan beberapa derajat kepada orang yang beriman, berilmu dan beramal dengan ilmunya karena ilmunyalah menjadi hujjah yang menerangi ummat. *Wallahu ‘alam.

Feminisme, feminisme adalah suatu paham gerakan yang menginginkan penghapusan patriarki. Patriaki adalah sebuah sistem dimasyarakat yang mengunggulkan gender laki-laki atas gender perempuan. Perlu dipahami pula, feminisme menuntut kesetaraan gender bukan persamaan gender/seks/biologis. Walaupun menurutku, patriaki sulit/tidak bisa dihapuskan karena sangat tertanam kuat dalam masyarakat, kesalahpahaman dalam agama dan edukasi yang kurang.

Seperti pergerakan yang dibentuk oleh manusia dan beranggotakan jutaan orang, tentu ada aliran-alirannya, seperti;

a. Feminisme Liberal, yang menuntut kebebasan secara penuh dan individual. Akibatnya menjadikan perempuan meninggalkan ranah domestik pada ranah publik.

b. Feminisme Radikal, yang meyakini bahwa tubuh perempuan hanya dijadikan objek penindasan oleh laki-laki karena patriarki. Akibatnya merekalah yang menolak adanya institusi keluarga baik secara teoritis atau praktis.

c. Feminisme Anarkis, yang meyakini bahwa laki-laki dan negara adalah 2 hal sebagai sumber permasalahan, akibatnya mereka ingin melemahkan/menghancurkannya.

d. Feminisme Marxis, yang berpaham bahwa perempuan dipandang melalui kelasnya, diskriminasi terhadap perempuan merupakan dampak dari sistem kapitalis sehingga menjadikan perempuan menjadi objek pengerukan modal kaum borjuis.

e. Feminisme Sosialis, yang menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan terhadap perempuan. Ia setuju dengan Feminisme Marxis bahwa kapitalisme adalah sumber penindasan terhadap perempuan. Ia juga setuju dengan feminisme radikal bahwa patriarkilah yang menjadi sumbernya. Jadi, menurutnya kapitalis dan patriarkilah yang menjadi sumbernya. Di Indonesia sendiri, seringkali perempuan memiliki beban ganda yang menghasilkan problem-problem kemiskinan.

RA. Kartini dan Literasi Islam

Hari Senin (Pahing), 21 April 1879 di kota Mayong, kab. Jepara, lahirlah sosok bayi perempuan cantik nan sehat. Diberi nama oleh ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, adalah Kartini. Kartini merupakan seorang bangsawan sebagai Asisten Wedana di kotanya, sebab itulah ia diberikan gelar R.A (Raden Ajeng) didepan namanya. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara yang lahir dari 2 orang ibu, yakni R.A. Moerjam dan R.A. Ngasirah, Kartini dilahirkan dari R.A. Ngasirah.

Ayahnya Kartini adalah sosok yang berpendidikan, hampir semua anak-anaknya disekolahkan walaupun pada masa itu yang dilakukan ayahnya sangat bertentangan dengan adat, terlebih bagi putri-putrinya. Hal itu tidak lantas membuat ayahnya mengurungkan niat untuk menyekolahkan putra-putrinya, baginya anak-anak bumi putra juga harus berpengetahuan seperti anak-anak Belanda. Singkat cerita, Kartini didaftarkan sekolah di sekolah rendah kelas dua Belanda di Jepara, ini termasuk sekolah elit karena hanya anak-anak Belanda, Indo-Belanda dan anak-anak bangsawan yang bisa bersekolah disitu. Selama bersekolah, Kartini punya banyak sahabat putri-putri Belanda, pernah ditanyakan mengenai cita-citanya setelah lulus. Setelah lulus, Kartini teringat pertanyaan itu dan ia ingin melanjutkan sekolah seperti sahabatnya yang bisa menentukan hidupnya sendiri. Dengan gembira ia mengutarakan itu pada kedua orang tuanya, namun ayahnya tidak mengizinkan sebab terhalang oleh adat saat itu dimana anak perempuan tidak bisa menentukan keinginannya. Walaupun ayahnya sangat ingin mengamini permintaan putrinya itu.

Saat usia 12 tahun, Kartini mulai hidup dalam pingitan selama itu pula sahabatnya -Latsy dan Stella- sering menjenguknya. Ia terus mencari tahu apa yang terjadi di luar melalui buku, majalah, koran atau apapun dan senang sekali berkirim surat dengan sahabatnya, inilah yang dijadikan buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Ia menyadari bahwa banyaknya isu yang harus segera diselesaikan, khususnya isu perempuan. Kartini memiliki kedudukan tersendiri di hati jutaan perempuan, setidaknya di hatikuuuuuu HEHEH.

Kartini menuliskan curahan hati kepada sahabatnya, Stella Zeehandelaar. Salah satunya tercatat dalam surat bertanggal 6 November 1899 yang dikutip dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?”

“Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun agar bisa dipahami setiap muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.”

“Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghapal bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.”

Aku pikir, tidak jadi orang saleh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu, Stella?”

Pada masa remajanya, bagaimana Kartini juga sempat bertanya mengenai Islam dan peranan perempuan dalam Islam kepada guru mengajinya, Kyai Sholeh. Orang banyak mengangkat pemikiran Kartini tentang emansipasi, tapi jarang sekali mengangkat tentang Islam.

Keduanya bertemu dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat, paman Kartini. Saat itu, Kiai Sholeh sedang memberikan pengajaran tentang tafsir surat Al-Fatihah, surat pembuka dalam Al-Quran. Satu hal yang sangat baru ditemui dan didengar Kartini.

Pertemuan Kartini dan sang ulama dituturkan cucu Kiai Sholeh, Fadhila Sholeh. Kartini pun segera meminta kepada pamannya agar menemaninya bertemu dengan Kiai Sholeh, pamannya pun mengiyakan.

Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?” Tanya Kartini.

Mengapa Raden Ajeng mempertanyakan hal ini?”, Ujar Kiai Sholeh dengan heran.

“Kiai, selama hidupku baru kali ini saya berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku.” Kartini meneruskan, “Namun, saya heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Alquran ke dalam bahasa Jawa. Bukankah Alquran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Mendengar itu, Kiai Sholeh tergerak untuk menulis sebuah kitab terjemahan sekaligus tafsir yang diberi nama Faid ar-Rahman. Apa yang ia (Kartini) tulis dalam Habis Gelap Terbitlah Cahaya (Door Duisternis tot Licht) itu pasti dipengaruhi oleh guru yang sangat ia hormati selama mengaji Al-Quran,” Ujar Gus Lukman.

Sumber:

https://m.liputan6.com/regional/read/2927608/kisah-kartini-terpukau-makna-alquran

Sara Tirta Kusuma Dewi dan Daniel Agus Maryanto, Seri Pahlawan Nasional: R.A. Kartini (Pahlawan Emansipasi Wanita), 2003, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, h. 1-8.