My Body is My Authority

This article will be written in English with the help of Google Translate, U-Dictionary and my improvisation. I will apologize to my English teacher. 🙂

So, let’s talk about “my body is my authority”. You can agree or disagree with my opinion. I just want to share with you and write in English hehe.

In this article, I would like to share my discomfort when I am seen not as myself but by my height and stature, or I am seen as a “smart woman” because I wear glasses. I only wore what people wanted to see, like I had to be responsible for other people’s views. And that seems a little unfair to me.

Authority is the moral or legal right or ability to control. These are our bodies, we have the right to control our bodies. In my opinion, Allah has given us the right as Khalifah, He trusted us, He has given us the sense to think and the feeling to feel, so what’s wrong with having authority over our bodies? In addition to rights, there are duties to be fulfilled especially if having confidence and have established the rule concerning dressing for women, like wearing clothing that closes the veil.

The thing that’s uncomfortable for me is that women have to take responsibility for the male desire. I’d say the usual things we hear, like when women are the rape victims who are asked is “What about the clothes she’s wearing?”. It’s not a youtube video saying, it’s what’s going on around here. That’s a recurring mistake. Rape results from a sense of dominance by the perpetrator of the victim and not the clothing the victim was wearing. Say if there is a Muslim woman not wearing a veil while the majority of clerics say her hair is a veil, does that mean she has a right to be harassed? If a woman has huge breasts, does she have the right to be raped? Even men have authority, he can choose to act casual. He’s not a robot when he sees a woman’s hair auto-engaged. Never compared cats and salted fish cause it’s very annoying.

……….. Gatau lagi

Pandemic Has Joined

Aku memulai kuliah secara online mungkin di akhir semester yang lalu, entahlah aku sudah lupa. Ketika itu adalah waktu pertama pandemi itu masuk dan berkembang di Indonesia. Jujur, walaupun itu kabar dari kota nun jauh disana tapi kepanikannya sampai dimana-mana dan menghasilkan ketakutan, kepanikan, kebingungan diberbagai daerah, tak terkecuali daerahku. Identifikasi terhadap pandemi tersebut belum menemukan titik terang, instruksi untuk antisipasi atau menjaga diri pun belum jelas karena pandemi ini terhitung baru, setidaknya itulah yang membuat aku memutuskan untuk meliburkan diri lebih dahulu setidaknya tiga hari.

Di hari selanjutnya, grup WhatsApp kelasku tetap ribut membicarakan materi, tugas dan sebagainya. Tentu saja aku tidak bisa ikut nimbrung karena aku absen. Selain para mahasiswanya, para dosen pun tetap antusias untuk mengajar secara offline. Bagiku, ketika itu hanya aku yang bersikeras untuk mengganti perkuliahan secara online, aku tidak tahu apakah mereka juga ada yang menginginkan kuliah secara online karena tidak ada yang angkat bicara dan aku tidak menanyakan pendapat teman-temanku tentang hal itu.

Ditengah kepanikan itu, beberapa kampus memutuskan untuk berhenti dulu kuliah secara offline/tatap muka dan akan diganti dengan online. Menurutku, hal tersebut merupakan keputusan yang baik untuk kondisi seburuk itu. Aku tidak tahu bagaimana keputusan skala kampusku namun aku dapat memastikan bahwa kelasku tidak memutuskan hal yang sama, yaitu mengganti perkuliahan dari sistem offline ke sistem online.

Dengan demikian, aku kalah suara dan aku tidak bisa untuk absen kuliah terus-menerus karena aku akan ketinggalan materi dan akan banyak absen yang kosong haha. Akhirnya aku memutuskan untuk menghadiri kelas kembali seperti biasa. Setelah beberapa minggu kemudian, barulah perlahan-lahan kuliah yang asalnya offline menjadi online. Bagiku itu respons yang bagus, dan mungkin karena masih minimnya informasi tentang pandemi yang merajalela sehingga tidak semua orang merasakan kepanikan kala itu.

Aku tidak memungkiri bahwa belajar online adalah hal yang sulit apalagi itu kebiasaan baru karena biasanya perkuliahan dilakukan secara offline/tatap muka. Selama waktu masih bergulir, manusia harus selalu siap untuk menghadapi perubahan.

Dan tulisan ini aku benar-benar menyampaikan sudut pandangku, tanpa berniat menyinggung pihak lain.

Pentingnya Waktu bagi Ibnu Aqil

Beberapa waktu lalu aku menonton sebuah video youtube dari channel Jeda Nulis milik Habib Husein Ja’far Al Haddar. Video itu merespon tentang cuitan seorang anak muda yang mengatakan kurang lebih seperti ini, “Bukannya malas sholat, hanya saja terkadang bosan.” maka dalan video tersebut, beliau memberikan wejangan-wejangan untuk anak muda tersebut dan penonton yang lain. Jujur, aku suka dengan video-videonya karena bagiku pembahasannya cukup ringan, asyik dan kemungkinan akan sulit bila mencarinya dalam masjid atau tablig akbar. Terlebih lagi, pernyataan-pernyataan nyeleneh dari anak muda yang menjadi penontonnya kebanyakan mewakili pertanyaanku juga.

Kembali ke video tersebut, setelah menguraikan responnya selama hampir 8 menit aku tertarik dengan salah satu pernyataan Habib Ja’far tentang Ibn Aqil yang menulis kitab al-Furun sekitar 800 jilid. Seusai menonton video tersebut, aku bergegas untuk berselancar di google.ku mencoba mencari tahu siapa Abu’l Wafa’ Ali bin Aqil bin Muhammad bin Aqil atau yang dikenal Ibn Aqil adalah seorang pemuda, ulama dan cendikiawan berasal dari Baghdad yang lahir tahun 431 H dan wafat tahun 513 H. Beliau dibesarkan dalam keluarga yang mencintai ilmu sehingga menjadikan beliau sebagai pecinta ilmu, tepatnya berbagai ilmu akan beliau pelajari sehingga beliau adalah seseorang yang sangat menghargai, memperhatikan dan memanfaatkan seluruh waktunya dengan baik. Beliau memanfaatkan tenaganya dengan optimal untuk menemui guru-gurunya serta mempelajari ilmu-ilmunya, seperti ilmu hadits, ilmu sastra, ilmu hukum, ilmu teologi dan lainnya. Beliau tidak melalui waktunya dengan sia-sia, bahkan pada saat beliau menunggu lembeknya roti yang direndam air, beliau memanfaatkan waktu tsb untuk muraja’ah (mengulang pelajaran). Beliau meyakini bahwa semakin luas ilmu yang dimiliki akan mengantarkan diri agar lebih bijak dalam bersikap. Hal itu dapat dilihat dari tuduhan orang yang bertubi-tubi namun beliau merespon dengan tenang serta tetap menulis dan berpikir. Berkat pemanfaatan waktu yang baik serta kegigihan beliau kemudian lahirlah sebuah kitab monumentalnya bernama “al-Funun” yang memuat berbagai macam cabang ilmu. Perihal jilidnya ada banyak riwayat dan pendapat, namun lebih dari 200 jilid.

Itu saja sedikit ulasan mengenai Ibn Aqil, kita bisa mengambil pelajaran bahwa pemanfaatan waktu yang tepat akan membentuk kepribadian yang lebih baik.

Gender itu…

Perbincangan masalah gender, seringkali menimbulkan suasana “yang kurang nyaman” bahkan konfrontatif, baik dalan forum perempuan saja maupun forum yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Kesalahpahaman atau kekurangatahuan masyarakat terhadap kedua istilah (yakni gender dan sex) yang secara konseptual ataupun implikasinya sangat berbeda ini, bisa disebabkan oleh beberapa hal:

Pertama, istilah gender tergolong bahasa asing. Kedua, fenomena dan problem gender dianggap sebagai suatu problem yang tidak dekat dengan kita, padahal fenomena gender terdapat di sekitar kita. Ketiga, kondisi di atas mengakibatkan tidak adanya sensitivitas pada laki-laki maupun perempuan sendiri terhadap fenomena yang terjadi. Keempat, rendahnya asertifilitas terhadap persoalan gender, mengakibatkan kaum perempuan (terutama) merasa kurang mampu menyuarakan problemnya, baik kepada sesama perempuan maupun kepada laki-laki. Gender sebagai fenomena sosial budaya diartikan sebagai dampak sosial yang muncul dalam suatu masyarakat karena adanya pembedaan atas dasar jenis kelamin.

Pendidikan yang responsif gender merupakan isu hangat yang ramai dibicarakan oleh berbagai kalangan selama satu darsawarsa terakhir ini. Terlebih lagi di Indonesia yang memberikan 30% bagi perempuan untuk berpartisipasi sebagai anggota legislatif dalam dunia perpolitikan di negeri ini.


Dalam masyarakat, gender secara umum sering diidentikan dengan jenis kelamin (sex), sehingga Seksologi asal Selandia Baru, John Money, mencetuskan perbedaan penggunaan istilah jenis kelamin biologis dan gender sebagai peran pada tahun 1955. Echlos dan Shadly (1983) menyebutkan bahwa gender berarti jenis kelamin. Gender adalah perbedaaan tampak pada laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam bukunya, Sex and Gender: an Introduction, Halary M. Lips menyebutkan gender sebagai harapan-harapan budaya pada laki-laki dan perempuan dan mengenai ini, salah satu teori feminis mengangkat konsep perbedaan antara jenis kelamin biologis dan gender sebagai konstruksi sosial.

Berkenalan Yuk dengan Tafsir al-Azhar!

Sebagai salah satu hasil karya Buya Hamka, tafsir ini sangat terkenal di Indonesia. Lalu itu tafsir al-Azhar?

Penamaan Tafsir al-Azhar tidak terlepas dari penamaan Masjid Agung Kebayoran
Baru dengan Majid Agung al-Azhar oleh Rektor Universitas al-Azhar, Syaikh Mahmoud Syaltout tahun 1960. Adapun yang memotivasinya dalam menulis tafsir ini adalah:

  • Adanya suasana baru di Indonesia yang penduduknya mayoritas Islam sehingga mereka haus akan bimbingan agama serta rahasia Al-Qur’an yang membuatnya ingin meninggalkan sebuah pusaka yang bermanfaat,
  • Ia melihat bahwa para mufassir klasik sangat gigih atau ta’asub (fanatik) terhadap mazhab yang mereka anut, bahkan diantara mereka yang sekalipun redaksi redaksi suatu ayat nyata-nyata lebih dekat kepada suatru mazhab tertentu, akan tetapi mereka tetap menggiring pemahaman ayat tersebut kepada mazhab tersebut,
  • Hendak memenuhi sebaik-baiknya husn al-Dzan (baik sangka) al-Azhar dan hutang budi yang mendalam padanya yang telah memberinya penghargaan (gelar Doktor Honoris Causa).
  • Meningkatnya semangat dan minat anak muda Indonesia (daerah Melayu) dalam mendalami agama Islam terlebih kajian tentang kandungan Al-Qur’an, namun tak diimbangi dengan penguasaan bahasa Arab yang cukup,
  • Banyaknya muballigh yang masih canggung dalam menyampaikan dakwah mereka, secara retorika cukup bagus namun ilmu umum dan Al-Qur’an masih menjadi pertanyaan.
  • Penafsiran Hamka dimulai dari Surah Al-Kahfi yang penjelasan (syarah)nya disampaikan di Majid al-Azhar serta catatan tersebut ditulis sejak 1959 dan dipublikasikan dalam majalah Gema Islam yang terbit pertamanya 15 Januari 1962 sebagai pengganti majalah Panji Masyarakat yang dibredel oleh Soekarno tahun 1960. Pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal 1383 H/27 Januari 1964 M, ia ditangkap rezim Orde Lama dengan tuduhan berkhianat terhadap tanah air dan dipenjara selama 2 tahun 7 bulan. Disinilah ia memanfaatkan waktunya untuk menulis dan menyempurnakan tafsirnya 30 juz.

Dalam penulisan tafsir ini, ada beberapa rujukan tafsir yang digunakannya
dapat terbaca dalam kata pengantarnya, yakni: Tafsir al-Thabari karya Ibn
Jarir al-Thabari, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir al-Razi, Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani
al-Tanzil, Tafsir al-Nasafi Madariku al-Tanzil wa Haqa’iqu al-Ta’wil karya
al-Khazi, Fath al-Qadir, Nailu al-Athar, Irsyad al-Fuhul (Ushul Fikih) karya
al-Syaukani, Tafsir al-Baghawi, Ruhul Bayan karya al-Alusi, Tafsir al-Manar
karya Rashid Ridha, Tafsir al-Maraghi karya Syaikh al-Maraghi, Tafsir al-Jahawir karya Thanthawi Jauhari, Tafsir fi Zhilal Al-Qur’an karya Sayyid
Qutb, Mahasin al-Ta’wil karya Jamaluddin al-Qasimi, al- Mushaf al-Mufassar karya M. Farid
Wajdi, al-Furqan karya A. Hassan, Tafsir Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’anul
Karim, Tafsir an-Nur, Tafsir Al-Qur’anul Hakim, Al-Qur’an dan Terjemahan
Depag RI, Tafsir Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’anul Karim, Fathurrahman
Lithalibi Ayati Al-Qur’an, Fathul Bari’, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Tirmidzi, Riyadh al-Shalihin, Syarh al-Muhazzab, al-Muwatha, al-Umm, al-Risalah, al-Fatawa, al-Islam Aqidah wa al-Syari’ah Sulubussalam fi Syarh Bulug al-Maram, al-Tawassul wa al-Wasilah, al-Hujjatul Balighah, dan lain-lain.

Itu sedikit perkenalannya.

Biografi Singkat Buya Hamka

H. Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah yang dikenal sebagai Hamka
dilahirkan di Tanah Sirah desa Sungai Batang di tepi Danau Maninjau (Sumatra Barat) pada tanggal 16 Februari 1908 M/ 14 Muharram 1326 H dan wafat di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1981 M. Ia diberi gelar Buya yaitu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab yang berarti ayahku, atau seseorang
yang dihormati. Pada tahun 1914, ia mengawali pendidikannya dengan belajar membaca Al-Qur’an di rumah orang tuanya dan ketika mereka pindah dari Maninjau ke Padang Panjang yang merupakan basis pergerakan Kaum Muda Minangkabau. Pada tahun 1916,
Zainuddin Labai el-Yunusi mendirikan sekolah Diniyah (sore), ia dimasukkan oleh ayahnya ke sekolah tersebut. Pagi hari ia belajar di sekolah desa, sore hari di sekolah Diniyah dan malah harinya belajar mengaji. Tak seperti kebanyakan para tokoh, pendidikan formalnya hanya menempuh sampai kelas 2 SD Maninjau.

Saat berusia 10 tahun, ia mendalami ilmu Islam yang didirikan ayahnya sepulangnya dari Makkah. Ia adalah sosok yang haus akan ilmu yang
ingin terus belajar dan berkembang. Ia mempelajarinya kebanyakan secara otodidak tanpa pendidikan khusus.

Ia adalah seorang ulama, aktivis politik, sastrawan, filosof, aktivis organisasi, wartawan, editor, penulis. Ia aktif dalam gerakan Muhammadiyah dan
mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk memberantas khurafat, bid’ah dan tarekat kebatinan sesat di Padang Panjang. Kemudian ia terpilih menjadi Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatra Barat oleh konfrensi Muhammadiyah menggantikan S. Y. Sutan Mangkuto tahun 1946 dan tahun 1953 terpilih sebagai Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Pada tahun 1920-an, ia menjadi wartawan beberapa buah berita seperti Pelita Andalas, Seruan Islam dan Seruan Muhammadiyah. Tahun 1982, ia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat, Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam serta menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar sebagai aktivis politik, ia aktif dengan Partai Masyumi dan tahun 1955 trpilih menjadi anggota Dewan Konstituante.

Beberapa contoh karya-karyanya, antara lain Layla Majnun, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tasawuf Modern, Islam dan Demokrasi, Perkembangan Tasawuf
dari Abad ke Abad, Mengembara di Lembah Nil, Ditepi Sungai Dajlah, Islam dan Kebatinan, Ekspansi Ideologi, Falsafah Ideologi Islam, Urat Tunggang Pancasila, Adat Minangkabau menghadapi Revolusi, Muhammadiyah di Minangkabau, Tafsir al-Azhar,
dan lainnya. Multitalenta yang hidup pada dirinya merupakan anugrah dari Sang Maha Pencipta diraih melalui kerja keras hingga berbuah manis.
Ia telah menunjukkan:
“Harimau mati meninggalkan belang, gajah meninggalkan gading dan manusia mati
meninggalkan jasa”.

Piagam Madinah dan Demokrasi

Kali ini aku ingin berbagi sedikit perihal Demokrasi dan Piagam Madinah, karena banyak orang mengatakan bahwa demokrasi tidak sejalan dengan ajaran Islam. Desclaimer dulu bahwa tulisan ini aku ringkas dan aku mengedit dengan bahasa yang aku pahami dari buku Islam Moderat dan Isu-isu Kontemporer karya Ayang Utriza Yakin, untuk mendapat informasi secara utuh bisa baca dibukunya langsung!


Sekilas tentang Piagam Madinah


Piagam Madinah (al-Shahifah al-Madinah/al-Mitsaq al-Madinah) atau Konstitusi Madinah adalah perjanjian yang disepakati oleh Rasulullah sebagai pemimpin besar umat Islam (Muhajirin dan Anshar) ketika beliau baru sampai di kota tersebut dengan kaum mayoritasnya adalah kaum Yahudi Madinah yang terdiri dari beberapa kabilah, disamping keyakinan kelompok minoritas. Komposisi pertama yang dilakukan Rasulullah ialah menjajaki komposisi demografis agama dan sosial dari penduduk Madinah. Komposisi kedua, Rasulullah melakukan sensus penduduk, yang menurut data terakhir pada buku Ali Bulac berjudul Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global ditemukan 10.000 penduduk: 1.500 kaum Muslimin, 4.000 kaum Yahudi dan 4.500 kaum musyrikin. Maka sangat jelas bahwa kaum Muslimin masih minoritas saat itu sehingga sebagai pemimpin besar kaum Muslimin, Rasulullah melakukan langkah-langkah strategis untuk menghadapi masyarakat yang multi-agama dan multi-etnis. Kaum Muslimin terdiri atas Muhajirin dan Anshar, kaum Yahudi terdiri atas Banu Qaynuqa, Banu Nadhir dan Banu Qurayzah, dan kaum musyrikin terdiri atas masyarakat Arab yang menyembah berhala (paganisme) dan kepercayaan lama.


Tindakan pertama yang dilakukan Rasulullah adalah mempersaudarakan antara kaum Muslimin, yakni Muhajirin dan Anshar di kediaman Anas Ibn Malik. Setelah berhasil, beliau melanjutkan langkah kedua, yakni penyatuan semua komunitas yang ada di Madinah dengan mengadakan perjanjian bersama kaum Yahudi atas dasar aliansi dan kebebasan beragama. Dengan berhasilnya perjanjian ini, maka kekuatan sosial-politik Madinah di bawah kekuasaan penuh Rasulullah. Perjanjian inilah kemudian kita kenal Piagam Madinah. Piagam ini menjadi pijakan untuk realisasi proyek sosial yang pluralis, maka akan lahir sebuah masyarakat yang egaliter, partisipatif dan demokratis.


Nilai-nilai Demokrasi dalam Piagam Madinah


1. Persamaan
Maksudnya persamaan derajat dan persamaan keadilan, dengan tujuan untuk menciptakan kedamaian dan stabilitas di kalangan masyarakat. Persamaan dan keadilan terkandung dalam pasal 1, 12, 15, 16, 19, 22, 23, 24, 37 dan 40 dengan prinsip bahwa seluruh warga Madinah berstatus sama di hadapan hukum dan memperoleh hak sosial tanpa melihat status sosial, agama, suku maupun jenis kelamin.


2. Kebebasan
Kebebasan beragama tertuang dalam pasal 25 yang berbunyi, “Kaum Yahudi dari Banu Auf adalah satu umat dengan Mukminin. Bagi kaum Yahudi agam mereka dan bagi kaum mukminin agama mereka. (Kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan din mereka sendiri, kecuali bagi orang yang berbuat lalim dan jahat, merusak diri dan keluarga mereka.” Dalam pasal ini agama tidak menjadi pemisah. Kaum Yahudi dan musyrikin tidak diposisikan sebagai ‘wilayah perang/dar al-harb’ dan kaum Muslimin sebagai ‘wilayah damai/dar al-Islam’ tetapi mereka hidup dalam satu tempat sebagai umat yang hidup dalam dan berdasarkan kedamaian.


3. Hak Asasi Manusia
Walaupun dalam piagam ini tidak secara eksplisit menyebutkan HAM, namun semangat poin-poin seperti kebebasan beragama dan egalitarianisme sudah mencakup aspek ini. Al-Qur’an secara tegas memperhatikan perihal HAM (QS. Al-Isra’: 70). Contohnya, Rasulullah ketika khutbah perpisahan (khutbah al-wada’), “Sesungguhnya hidupmu, hartamu dan harga dirimu adalah berharga (suci) bagi kalian seperti hari ini, bulan ini…” pada akhir khutbahnya beliau menegaskan “Bukankah telah kusampaikan?” sebanyak tiga kali dan beliau menyuruh agar orang-orang yang hadir pada saat itu agar menyampaikan pada yang tidak hadir. Demikian Rasulullah ingin menekankan HAM. Pada sejarah perjalanan Indonesia pun sebagai negara yang demokratis, menaruh perhatian yang sangat besar bahkan sempat ingin dibuat Piagam HAM.


4. Musyawarah (syura)
Kata syura berasal dari akar kata syawaramusyawaratan berarti mengeluarkan madu dari sarang lebah. Kemudian dalam istilah Indonesia disebut musyawarah yang artinya segala sesuatu yang diambil/dikeluarkan dari yang lain untuk memperoleh kebaikan. Dalam Al-Quran, kata syura ada dalam beberapa ayat, yakni QS. Al-Baqarah: 233 berarti kesepakatan, QS. Ali Imran: 159 Rasulullah diperintahkan untuk bermusyawarah dengan para sahabat berkenaan dengan peristiwa Uhud, dan QS.Al-Syura: 38 agar umat Islam mementingkan musyawarah dalam berbagai persoalan. Musyawarah merupakan inti dari demokrasi.

—-
Sebenarnya masih banyak aspek yang terkandungan dalam Piagam Madinah yang berhubungan dengan demokrasi, seperti: Persatuan dan kesatuan pada pasal 1, 15, 17, 25 dan 37. Pembelaan pada negara pada pasal 24, 37, 38 dan 44.

Wallahu ‘alam.

Ulama Perempuan Indonesia dan Magernya Perempuan Indonesia

Aku sering mendengar istilah ulama perempuan, awalnya aku tidak tertarik sama sekali untuk meniliknya namun karena seringnya istilah ini kudengar maka aku mencoba menuliskan beberapa hasil penjelajahanku di google.

Sebelum membahasnya lebih jauh, sebenarnya apa itu ulama? Hmm. Kata ‘ulama’ merupakan serapan dari bahasa Arab yang berarti orang-orang yang berilmu. Bahasa Arab sendiri adalah salah satu bahasa yang peka terhadap gender. Seperti,
Alim (عالم) untuk satu orang laki-laki.
Alimat (عالمة) untuk satu orang perempuan.
Alimun (عالمون) untuk orang laki-laki lebih dari dua.
Alimat (عالمات) untuk perempuan lebih dari dua.
Ulama (علماء) untuk lebih dari dua orang baik laki-laki maupun perempuan walaupun kata ini bergender laki-laki.

Tentu saja dengan pengetahuan yang sangat burik ini aku tidak membahas ulama perempuan dari seluruh belahan dunia karena akan sangat luas. Di negara yang lagi ramai sambat dengan pemerintah, Indonesia, memiliki sejarah yang terhiasi dengan kepemimpinan dan keulamaan perempuan. Ketika melawan penjajah Portugis, Spanyol, Jepang, maupun Belanda, perempuan sering kali terlibat di dalamnya sebut saja Keumalahayati yang tahun 1585-1604 memimpin 2.000 Inong Balee (para perempuan dan janda pahlawan Aceh) bertempur melawan Cornelis de Houtman dari Belanda dan memenangkannya sehingga diberi gelar Laksamana. Banyak lagi gambaran kepemimpinan perempuan Indonesia.

Keulamaan perempuan pada masa itu ditandai dengan mendirikan sekolah, mengajarkan mengaji, baca-tulis, kerajinan tangan dan keahlian lainnya, misalnya Siti Walidah (istri KH. Ahmad Dahlan). Beliau mengajarkan hal tersebut pada perempuan lain setiap setelah (ba’da) ashar melalui pengajian wal Asyhri dan Perkumpulan Sapa Tresna sejak tahun 1914, hingga berdirinya Aisyiyah pada 19 Mei 1917 M/27 Rajab 1333 H di Yogyakarta. Kalau kalian ada waktu boleh berkunjung ke website Ulama Perempuan Indonesia, disitu ada foto-foto ulama perempuannya dan yang aku familiar ada dua orang, yakni bu Sinta Nuriyah dan Neng Dara Affiah. So, you have no reason untuk tidak berbangga hati menjadi perempuan Indonesia. Sayang, keulama perempuan saat ini menjadi langka, baik karena perempuan sekarang mager mengembangkan dirinya, mungkin juga karena sosial yang menekan perempuan untuk ‘udah urusin dapur aja, gausa ngerjain hal lain‘ atau hal lain. We don’t know yaa.

Al-Quran menegaskan tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Keduanya memiliki kedudukan yang sama sebagai makhluk ciptaan Allah, kecuali dibedakan dari taqwanya,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Persamaan beban dan tanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan melakukan pekerjaan yang positif,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97)

Dan, persamaan mengenai keharusan untuk saling merangkul satu sama lain
وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. An-Nahl [9]: 71)

See? Itu baru 3 ayat dalam Al-Quran yang memotivasi perempuan maupun laki-laki untuk selalu mengembangkan dirinya, membuatnya bermanfaat, kuat pemahaman agamanya, itupun cukup untuk menepiskan semua kemageran dalam dirimu, setidaknya mulai dari mengatur penggunaan akses dan waktu smartphone.

والله اعلم

al-Khawarij

Kaum Khawarij adalah kaum yang dulunya pengikut Ali namun keluar dari barisan karena peristiwa tahkim itu.

Mereka mengakui kekhalifahan Abu Bakr dan Umar bin Khattab karena diangkat dan tidak menyeleweng dari Islam, sedangkan Usman telah menyeleweng daari ajaran Islam sejak tahun ke-7 kekhalifahannya dan Ali menyeleweng setelah peristiwa tahkim itu. Sehingga Usman, Ali, Muawiyah, Amr, Abu Musa dan orang-orang yang melanggar Islam disebut kafir.

Beberap sekte al-Khawarij, yakni;

1) al-Muhakkimah adalah golongan asli khawarij dan terdiri dari pengikut-pengikut Ali. Menurutnya Ali, Muawiyah, Amr, Abu Musa dan orang-orang berdosa besar (seprti perzinahan dan pembunuhan) adalah kafir.

2) Al-Azariqah

Golongan yang dapat menyusun barisan baru, besar san kuat sesudah muhakkimah hancur adalah azariqah. Mereka lebih radikal dibanding muhakkimah, mereka tak lagi menggunakan term kafir, namun term musyrik (pooytheist). Khalifah pertama mereka adalah Nafi Ibn Al-Azraq (w. 686 M).

Mereka memandang musyrik ialah semua orang Islam yang tak sepaham dengan mereka, yang sepaham namun tak berada dilingkungan mereka, sehingga boleh/wajib dibunuh.

2) al-Najdat

Mereka berpendapat orang berdosa besar yang menjadi kafir dan kekal di dalamnya hanyalah orang Islam yang tak sepaham dengan golongannya. Dosa kecil akan menjadi dose besar jika dilakukan terus menerus dan yang mengerjakannya menjadi musyrik.

3) al-‘Ajariyah

Mereka bersikap lebih lunak karena menurut mereka berhijrah bukanlah suatu kewajiban tetapi hanya kebajikan. Mereka mempunyai paham puritanisme. Surat Yusuf dalam Al-Quran membawa cerita cinta dan Al-Quran sebagai kitab suci tidak mungkin mengakui surat Yusuf sebagai bagian dari Al-Quran.

4) al-Sufriah

Pandangannya dekat dengan golongan Azariqah, mereka berpendapat bahwa mereka tidak berpendapat bahwa anak-anak kaum musyrik boleh dibunuh.

Aliran dan Sejarah Teologi Islam

Teologi memiliki beberapa pengertian, sebagai berikut.

1) teologi sebagai Ushuluddin dimana teologi akan memberikan keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat sehingga tidak mudah terombang ambing oleh zaman.

2) teologi disebut juga ilm al-tauhid.

3) teologi sebagai ilmu kalam. Bisa kalam Tuhan maupun kalam manusia. Perihal kalam Tuhan, otomatis kita membicarakan Al-Quran (Kalamullah) yang pernah diperdebatkan pada abad 9 dan 10 M. Jikalau kalam manusia maka para mutakallim menggunakan kata-kata mereka guna mempertahankan pendapat-pendapatnya.

Sejarah Timbulnya Persoalan-Persoalan Teologi dlm Islam

Persoalan teologi Islam justru bermula dari masalah politik, bukan masalah teologi itu sendiri.

Jadi, awalnya Rasul berada di Mekkah guna menyiarkan Islam, namun beliau senantiasa mendapatkan tekanan hingga beliau dan pengikutnya pindah ke Yastrib (Madinah) tahun 622 M. Di Yastrib ada 2 bangsa yakni Arab & Yahudi, sedang bangsa Arab terdiri atas 2 suku yakni al-Khazraj dan al-‘Aus yg keduanya saling bersaing untuk menjadi pemimpin masyarakat Madinah. Hingga ketika mereka menunaikan haji di Mekkah, mereka mendengar bagaimana kedudukan Rasul sehingga mereka memilih Rasul agar menjadi kepala agama dan kepala pemerintahan.

Ketika Rasul wafat tahun 632 M, masyarakat utamanya kaum muslimin sangat kebingungan untuk mencari khalifah/pengganti Rasul sebagai kepala pemerintahan yang menguasai hampirp seluruh Semenanjung Arab. Dalam catatan sejarah Islam, Abu Bakr lah yang dipilih, kemudian digantikan Umar bin Khattab lalu digantikan oleh Usman bin Affan, menurutku boleh jadi pada masa kekhilafan Usman inilah bibit persoalan teologi mulai tumbuh karena dalam catatan sejarah, Usman adalah khalifah yang kurang kuat dan kurang tegas untuk mengalahkan ambisi keluarga-keluarganya. Keluarga-keluarganya diangkat menjadi pemimpin di beberapa wilayah, seperti ‘Abdullah Ibn Sa’d Ibn Abi Sarh menjadi Gubernur Mesir. Hal ini menimbulkan banyak pihak yang tidak suka hingga 500 orang berkumpul kemudian bergerak ke Madinah lalu terjadilah peristiwa mencekam itu hingga terbunuhnya Usman. Salah seorang pemuka pemberontak-pemberontak Mesir yang datang ke Madinah dan membunuh Usman adalah Muhammad Ibn Abi Bakr, anak angkatnya Ali.

Setelah wafatnya Usman, maka calon terkuat pengganti Usman adalah Ali bin Abi Thalib. Namun, ini mendapat tentangan keras dari Muawiyyah, sebagai Gubernur Damaskus dan termasuk keluarga Usman. Ia tidak mengakui Ali sebagai khalifah dan ia menuntut agar pembunuh Usman dihukum bahkan ia menuduh Ali juga ikut membunuh Usman.

Terjadilah (peristiwa tahkim) pertempuran di Siffin, tentara Ali mendesak tentara Muawiyah tetapi ‘Amr Ibn al-‘As (tangan kanan Muawiyah) meminta agar keduanya berdamai. Kemudian Abu Musa (tangan kanan Ali) dan ‘Amr bermufakat untuk menjatuhkan Ali dan Muawiyah. Abu Musa terlebih dahulu mengumumkan pada khalayak ramai putusan menjatuhkan Ali dan Muawiyah, kemudian disusul oleh ‘Amr yang menyatakan akan mendukung penurunan Ali dan menolak menurunkan Muawiyah. Padahal Ali adalah khalifah yang resmi setelah Muawiyah.

Keputusan Ali untuk mengadakan perdamaian itu tidak disukai oleh sebagian dari tentaranya karena mereka meyakini bahwa putusan hanya datang dari Allah dan kembali pada hukum-hukum dalam Al-Quran. La hukma illa lillah (tidak ada hukum selain dari hukum Allah) atau la hakama illa Allah (tidak ada pengantar selain daripada Allah). Mereka memandang Ali telah berbuat salah dan memutuskan untuk keluar dari barisan pengikutnya, dlm sejarah Islam dikenal sebagai al-Khawarij. Oleh karena itu mereka melawan Ali sehingga Ali memiliki 2 musuh, yaitu pihak Muawiyah dan al-Khawarij. Tetapi Ali msmutuskan untuk melawan al-Khawarij karena mereka selalu menyerang Ali. Hingga Ali wafat dan diakui sebagai khalifah umat Islam tahun 661 M, namun permasalahan inilah yang menjadi timbulnya persoalan teologi tentang siapakah yang kafir? Siapa pula yang masih Islam?

Al-Khawarij memandang bahwa Ali, Muawiyah, Amr, Abu Musa dan yang menerima arbitrase itu adalah kafir dan telah keluar dari Islam yaitu murtad/apostate sehingga mereka harus dibunuh, karena Al-Quran menyatakan: QS. Al-Maidah 44. Khawarij terbagi menjadi beberapa sekte sehingga konsep kafir pun mengalami perubahan, yang dipandang kafir bukan hanya tidak memutuskan hukum dengan Al-Quran, tetapi orang yang berbuat dosa besar, yairu murtakib al-ka’bair atau capital sinner.

Persoalan ini menimbulkan 3 aliran teologi dalam Islam, yakni;

1) khawarij, bahwa semua orang berdosa besar adalah kafir (murtad) sehingga wajib dibunuh.

2) Murzi’ah, bahwa orang berdosa besar tetap mukmin dan bukan kafir. Perihal dosanya, terserah Allah mengampunkannya atau tidak.

3) Mu’tazilah, bahwa orang berdosa besar bukanlah kafir maupun mukmin. Namun, diantara keduanya (almanzilah bain al-manzilitain).

Kemudian, muncul pula 2 aliran dalam teologi Islam, yakni:

1) Qadariah, bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan berbuat (free will dan free act).

2) Jabariah, bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam berkehendak dan berbuat, namun manusia pertindak dengan paksaan Tuhan. Paham ini disebut predestination/fatalisme.

Kemudian, aliran Mu’tazilah cukup mendapat banyak perlawanan. Perlawanan ini kemudian mengambil bentuk aliran teologi tradisional yang disusun oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari (935 M), yang dulunya juga seorang Mu’tazilah. Disamping itu ada pula al-Maturidiah yang disusun oleh Abu Mansur Muhammad al-Maturidi (w. 944 M) yang tidak setradisional Asy’ariah tak seliberal Mu’tazilah. Kemudian keduanya eksis hingga sekarang dan dikenal sebagai ahl Sunnah wal Jamaah. Maturidiah banyak dianut oleh Mazhab Hanafi sedangkan Asy’ariah banyak dipakai oleh umat Islam yang sunni.

Sumber