Berkenalan Yuk dengan Tafsir al-Azhar!

Sebagai salah satu hasil karya Buya Hamka, tafsir ini sangat terkenal di Indonesia. Lalu itu tafsir al-Azhar?

Penamaan Tafsir al-Azhar tidak terlepas dari penamaan Masjid Agung Kebayoran
Baru dengan Majid Agung al-Azhar oleh Rektor Universitas al-Azhar, Syaikh Mahmoud Syaltout tahun 1960. Adapun yang memotivasinya dalam menulis tafsir ini adalah:

  • Adanya suasana baru di Indonesia yang penduduknya mayoritas Islam sehingga mereka haus akan bimbingan agama serta rahasia Al-Qur’an yang membuatnya ingin meninggalkan sebuah pusaka yang bermanfaat,
  • Ia melihat bahwa para mufassir klasik sangat gigih atau ta’asub (fanatik) terhadap mazhab yang mereka anut, bahkan diantara mereka yang sekalipun redaksi redaksi suatu ayat nyata-nyata lebih dekat kepada suatru mazhab tertentu, akan tetapi mereka tetap menggiring pemahaman ayat tersebut kepada mazhab tersebut,
  • Hendak memenuhi sebaik-baiknya husn al-Dzan (baik sangka) al-Azhar dan hutang budi yang mendalam padanya yang telah memberinya penghargaan (gelar Doktor Honoris Causa).
  • Meningkatnya semangat dan minat anak muda Indonesia (daerah Melayu) dalam mendalami agama Islam terlebih kajian tentang kandungan Al-Qur’an, namun tak diimbangi dengan penguasaan bahasa Arab yang cukup,
  • Banyaknya muballigh yang masih canggung dalam menyampaikan dakwah mereka, secara retorika cukup bagus namun ilmu umum dan Al-Qur’an masih menjadi pertanyaan.
  • Penafsiran Hamka dimulai dari Surah Al-Kahfi yang penjelasan (syarah)nya disampaikan di Majid al-Azhar serta catatan tersebut ditulis sejak 1959 dan dipublikasikan dalam majalah Gema Islam yang terbit pertamanya 15 Januari 1962 sebagai pengganti majalah Panji Masyarakat yang dibredel oleh Soekarno tahun 1960. Pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal 1383 H/27 Januari 1964 M, ia ditangkap rezim Orde Lama dengan tuduhan berkhianat terhadap tanah air dan dipenjara selama 2 tahun 7 bulan. Disinilah ia memanfaatkan waktunya untuk menulis dan menyempurnakan tafsirnya 30 juz.

Dalam penulisan tafsir ini, ada beberapa rujukan tafsir yang digunakannya
dapat terbaca dalam kata pengantarnya, yakni: Tafsir al-Thabari karya Ibn
Jarir al-Thabari, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir al-Razi, Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani
al-Tanzil, Tafsir al-Nasafi Madariku al-Tanzil wa Haqa’iqu al-Ta’wil karya
al-Khazi, Fath al-Qadir, Nailu al-Athar, Irsyad al-Fuhul (Ushul Fikih) karya
al-Syaukani, Tafsir al-Baghawi, Ruhul Bayan karya al-Alusi, Tafsir al-Manar
karya Rashid Ridha, Tafsir al-Maraghi karya Syaikh al-Maraghi, Tafsir al-Jahawir karya Thanthawi Jauhari, Tafsir fi Zhilal Al-Qur’an karya Sayyid
Qutb, Mahasin al-Ta’wil karya Jamaluddin al-Qasimi, al- Mushaf al-Mufassar karya M. Farid
Wajdi, al-Furqan karya A. Hassan, Tafsir Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’anul
Karim, Tafsir an-Nur, Tafsir Al-Qur’anul Hakim, Al-Qur’an dan Terjemahan
Depag RI, Tafsir Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’anul Karim, Fathurrahman
Lithalibi Ayati Al-Qur’an, Fathul Bari’, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Tirmidzi, Riyadh al-Shalihin, Syarh al-Muhazzab, al-Muwatha, al-Umm, al-Risalah, al-Fatawa, al-Islam Aqidah wa al-Syari’ah Sulubussalam fi Syarh Bulug al-Maram, al-Tawassul wa al-Wasilah, al-Hujjatul Balighah, dan lain-lain.

Itu sedikit perkenalannya.

Penulis:

Blog tanpa tema, tulisan seadanya, semoga ada manfaatnya! hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s