Biografi Singkat Buya Hamka

H. Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah yang dikenal sebagai Hamka
dilahirkan di Tanah Sirah desa Sungai Batang di tepi Danau Maninjau (Sumatra Barat) pada tanggal 16 Februari 1908 M/ 14 Muharram 1326 H dan wafat di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1981 M. Ia diberi gelar Buya yaitu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab yang berarti ayahku, atau seseorang
yang dihormati. Pada tahun 1914, ia mengawali pendidikannya dengan belajar membaca Al-Qur’an di rumah orang tuanya dan ketika mereka pindah dari Maninjau ke Padang Panjang yang merupakan basis pergerakan Kaum Muda Minangkabau. Pada tahun 1916,
Zainuddin Labai el-Yunusi mendirikan sekolah Diniyah (sore), ia dimasukkan oleh ayahnya ke sekolah tersebut. Pagi hari ia belajar di sekolah desa, sore hari di sekolah Diniyah dan malah harinya belajar mengaji. Tak seperti kebanyakan para tokoh, pendidikan formalnya hanya menempuh sampai kelas 2 SD Maninjau.

Saat berusia 10 tahun, ia mendalami ilmu Islam yang didirikan ayahnya sepulangnya dari Makkah. Ia adalah sosok yang haus akan ilmu yang
ingin terus belajar dan berkembang. Ia mempelajarinya kebanyakan secara otodidak tanpa pendidikan khusus.

Ia adalah seorang ulama, aktivis politik, sastrawan, filosof, aktivis organisasi, wartawan, editor, penulis. Ia aktif dalam gerakan Muhammadiyah dan
mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk memberantas khurafat, bid’ah dan tarekat kebatinan sesat di Padang Panjang. Kemudian ia terpilih menjadi Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatra Barat oleh konfrensi Muhammadiyah menggantikan S. Y. Sutan Mangkuto tahun 1946 dan tahun 1953 terpilih sebagai Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Pada tahun 1920-an, ia menjadi wartawan beberapa buah berita seperti Pelita Andalas, Seruan Islam dan Seruan Muhammadiyah. Tahun 1982, ia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat, Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam serta menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar sebagai aktivis politik, ia aktif dengan Partai Masyumi dan tahun 1955 trpilih menjadi anggota Dewan Konstituante.

Beberapa contoh karya-karyanya, antara lain Layla Majnun, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tasawuf Modern, Islam dan Demokrasi, Perkembangan Tasawuf
dari Abad ke Abad, Mengembara di Lembah Nil, Ditepi Sungai Dajlah, Islam dan Kebatinan, Ekspansi Ideologi, Falsafah Ideologi Islam, Urat Tunggang Pancasila, Adat Minangkabau menghadapi Revolusi, Muhammadiyah di Minangkabau, Tafsir al-Azhar,
dan lainnya. Multitalenta yang hidup pada dirinya merupakan anugrah dari Sang Maha Pencipta diraih melalui kerja keras hingga berbuah manis.
Ia telah menunjukkan:
“Harimau mati meninggalkan belang, gajah meninggalkan gading dan manusia mati
meninggalkan jasa”.

Penulis:

Blog tanpa tema, tulisan seadanya, semoga ada manfaatnya! hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s