Ulama Perempuan Indonesia dan Magernya Perempuan Indonesia

Aku sering mendengar istilah ulama perempuan, awalnya aku tidak tertarik sama sekali untuk meniliknya namun karena seringnya istilah ini kudengar maka aku mencoba menuliskan beberapa hasil penjelajahanku di google.

Sebelum membahasnya lebih jauh, sebenarnya apa itu ulama? Hmm. Kata ‘ulama’ merupakan serapan dari bahasa Arab yang berarti orang-orang yang berilmu. Bahasa Arab sendiri adalah salah satu bahasa yang peka terhadap gender. Seperti,
Alim (عالم) untuk satu orang laki-laki.
Alimat (عالمة) untuk satu orang perempuan.
Alimun (عالمون) untuk orang laki-laki lebih dari dua.
Alimat (عالمات) untuk perempuan lebih dari dua.
Ulama (علماء) untuk lebih dari dua orang baik laki-laki maupun perempuan walaupun kata ini bergender laki-laki.

Tentu saja dengan pengetahuan yang sangat burik ini aku tidak membahas ulama perempuan dari seluruh belahan dunia karena akan sangat luas. Di negara yang lagi ramai sambat dengan pemerintah, Indonesia, memiliki sejarah yang terhiasi dengan kepemimpinan dan keulamaan perempuan. Ketika melawan penjajah Portugis, Spanyol, Jepang, maupun Belanda, perempuan sering kali terlibat di dalamnya sebut saja Keumalahayati yang tahun 1585-1604 memimpin 2.000 Inong Balee (para perempuan dan janda pahlawan Aceh) bertempur melawan Cornelis de Houtman dari Belanda dan memenangkannya sehingga diberi gelar Laksamana. Banyak lagi gambaran kepemimpinan perempuan Indonesia.

Keulamaan perempuan pada masa itu ditandai dengan mendirikan sekolah, mengajarkan mengaji, baca-tulis, kerajinan tangan dan keahlian lainnya, misalnya Siti Walidah (istri KH. Ahmad Dahlan). Beliau mengajarkan hal tersebut pada perempuan lain setiap setelah (ba’da) ashar melalui pengajian wal Asyhri dan Perkumpulan Sapa Tresna sejak tahun 1914, hingga berdirinya Aisyiyah pada 19 Mei 1917 M/27 Rajab 1333 H di Yogyakarta. Kalau kalian ada waktu boleh berkunjung ke website Ulama Perempuan Indonesia, disitu ada foto-foto ulama perempuannya dan yang aku familiar ada dua orang, yakni bu Sinta Nuriyah dan Neng Dara Affiah. So, you have no reason untuk tidak berbangga hati menjadi perempuan Indonesia. Sayang, keulama perempuan saat ini menjadi langka, baik karena perempuan sekarang mager mengembangkan dirinya, mungkin juga karena sosial yang menekan perempuan untuk ‘udah urusin dapur aja, gausa ngerjain hal lain‘ atau hal lain. We don’t know yaa.

Al-Quran menegaskan tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Keduanya memiliki kedudukan yang sama sebagai makhluk ciptaan Allah, kecuali dibedakan dari taqwanya,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Persamaan beban dan tanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan yang baik dengan melakukan pekerjaan yang positif,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl [16]: 97)

Dan, persamaan mengenai keharusan untuk saling merangkul satu sama lain
وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. An-Nahl [9]: 71)

See? Itu baru 3 ayat dalam Al-Quran yang memotivasi perempuan maupun laki-laki untuk selalu mengembangkan dirinya, membuatnya bermanfaat, kuat pemahaman agamanya, itupun cukup untuk menepiskan semua kemageran dalam dirimu, setidaknya mulai dari mengatur penggunaan akses dan waktu smartphone.

والله اعلم

Penulis:

Blog tanpa tema, tulisan seadanya, semoga ada manfaatnya! hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s