Jika kamu benar, apa aku pasti salah?
Dewasa ini orang-orang berlomba untuk menunjukkan dirinya paling benar. Hal semacam ini juga sering kita temui di sosial media, seperti di sosial media karena tidak jarang masifnya informasi yang diterima sehingga filter diri semakin tumpul menjadikan sukar memilah milih antara yang benar dan salah. Yaa karena kurangnya referensi/perspektif kita terkait banyak hal.
Misalnya 1+1=2 dan 1+1=0 menurutmu yang mana yang benar? Mungkin kita akan menjawab 1+1=2 adalah yang benar karena itulah informasi yang kita terima sejak SD. Padahal jawabannya adalah keduanya benar. Mengapa?
1+1=2 adalah benar, jika bilangan desimal sebagai perspektif kita yakni 0-9. Bilangan desimal biasanya digunakan kawan sebagai password untuk teathring. Dengan begitu, apakah 1+1=0 adalah salah? Tentu tidak, jika kita menggunakan bilangan biner sebagai perspektif. Bilangan biner biasanya disebut bit yang lazim digunakan untuk pemograman.
Kemudian contoh lagi dalam segi fiqh tentang “apakah menyentuh lawan jenis dapat membatalkan wudhu?” (lihat QS. An-Nisa’: 43) jawabannya bisa iya, bisa jadi tidak. Mengapa? Karena menyentuh lawan jenis dalam keadaan berwudhu dapat membatalkan jika menggunakan perspektif mazhab Syafi’i, which is berargumen seperti itu. Namun, bisa juga tidak, jika menggunakan perspektif mazhab Hanafi yang argumennya bisa dibaca pada artikel yang lain.
Begitulah pentingnya kita lebih memperkaya perspektif kita, selain bertujuan agar tidak mudah menyalahkan orang lain, kita pun bisa melihat perbedaan dengan lebih jernih. Salah satu cara menambahnya dengan membaca buku, artikel, jurnal dsb.
Wallahu ‘alam
Tinggalkan Balasan